Lewati ke konten utama
Informasi Kesehatan Selasa, 13 Oktober 2026 · 53 dilihat

Gigi Tidak Sakit, Apakah Berarti Sehat? Pentingnya Pemeriksaan Gigi Sejak Dini

Gigi Tidak Sakit, Apakah Berarti Sehat? Pentingnya Pemeriksaan Gigi Sejak Dini

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, perhatian terhadap kesehatan gigi dan mulut masih sering diberikan setelah muncul keluhan, seperti nyeri gigi, gigi berlubang, gusi bengkak, atau kesulitan mengunyah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih cenderung memandang kesehatan gigi berdasarkan ada atau tidaknya rasa sakit. Padahal, tidak adanya keluhan bukan selalu berarti bahwa gigi dan mulut berada dalam kondisi sehat. Sejumlah gangguan dapat berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang dirasakan secara langsung.

Kondisi ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan setelah hasil pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah menunjukkan bahwa masalah gigi masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang banyak ditemukan pada anak.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa hingga Agustus 2026, CKG telah menjangkau sekitar 15,2 juta siswa dari target 50 juta anak sekolah. Dari pemeriksaan tersebut, karies gigi atau gigi berlubang menjadi salah satu temuan kesehatan dengan proporsi tertinggi, yaitu sekitar 40,9 persen.

Temuan tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena kesehatan gigi dan mulut pada masa anak-anak dapat memengaruhi kualitas hidup, kemampuan belajar, pola makan, serta kesehatan pada tahap kehidupan berikutnya.

Kesehatan Gigi dan Mulut Merupakan Bagian dari Kesehatan Secara Keseluruhan

Kesehatan mulut tidak hanya berkaitan dengan kondisi gigi. Mulut memiliki peran penting dalam berbagai fungsi dasar manusia, termasuk makan, berbicara, bernapas, dan berinteraksi sosial.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa penyakit dan kondisi kesehatan mulut merupakan salah satu kelompok penyakit yang paling banyak dialami masyarakat di dunia. Penyakit mulut dapat menimbulkan rasa sakit, ketidaknyamanan, gangguan fungsi, serta penurunan kualitas hidup.

WHO memperkirakan bahwa hampir 3,7 miliar orang di dunia mengalami berbagai kondisi kesehatan mulut. Karies gigi pada gigi permanen yang tidak ditangani juga termasuk salah satu kondisi kesehatan yang paling banyak ditemukan secara global.

Dengan demikian, kesehatan gigi dan mulut tidak seharusnya ditempatkan sebagai persoalan kesehatan yang bersifat sekunder. Upaya pencegahan dan pemeriksaan secara berkala perlu menjadi bagian dari perilaku hidup sehat.

Karies Gigi Masih Menjadi Permasalahan pada Anak

Hasil CKG Anak Sekolah memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan anak di Indonesia secara lebih sistematis. Salah satu temuan yang perlu mendapatkan perhatian adalah tingginya proporsi karies gigi.

Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa sekitar empat dari sepuluh anak sekolah yang menjalani pemeriksaan ditemukan mengalami gigi berlubang. Pemerintah kemudian mendorong penguatan upaya promotif dan preventif serta pemeriksaan gigi secara berkala sejak usia dini.

Karies gigi tidak seharusnya dianggap sebagai masalah yang dapat ditunda penanganannya. Apabila tidak ditangani, karies dapat berkembang dan menyebabkan rasa sakit, gangguan mengunyah, gangguan tidur, hingga kehilangan gigi.

Pada anak, masalah gigi juga dapat berdampak terhadap aktivitas belajar. Rasa nyeri dan ketidaknyamanan dapat mengganggu konsentrasi serta menyebabkan anak tidak dapat mengikuti kegiatan sekolah secara optimal.

Oleh karena itu, pencegahan dan deteksi dini perlu dilakukan sebelum masalah berkembang menjadi lebih berat.

Apa yang Menyebabkan Gigi Berlubang?

Karies gigi merupakan proses penyakit yang dipengaruhi oleh interaksi antara bakteri dalam plak, konsumsi gula, kondisi gigi, dan faktor lainnya.

Bakteri yang terdapat pada plak dapat memanfaatkan gula dan menghasilkan asam. Paparan asam secara berulang dapat menyebabkan kerusakan pada permukaan gigi dan secara bertahap berkembang menjadi karies.

Konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula secara berlebihan, terutama apabila dilakukan berulang kali sepanjang hari, dapat meningkatkan risiko terjadinya karies.

Oleh karena itu, pencegahan tidak hanya dilakukan melalui kegiatan menyikat gigi, tetapi juga melalui pengendalian konsumsi gula dan penerapan pola makan yang sehat.

WHO merekomendasikan agar konsumsi gula bebas dibatasi kurang dari 10 persen dari total asupan energi harian. Pembatasan hingga kurang dari 5 persen dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan, termasuk dalam mengurangi risiko karies gigi.

Tidak Merasakan Nyeri Bukan Berarti Tidak Membutuhkan Pemeriksaan

Salah satu tantangan dalam pencegahan penyakit gigi dan mulut adalah kebiasaan masyarakat yang baru mencari pelayanan kesehatan setelah muncul rasa sakit.

Padahal, pemeriksaan secara berkala dapat membantu tenaga kesehatan menemukan gangguan pada tahap lebih awal. Penanganan pada tahap awal pada umumnya lebih sederhana dibandingkan apabila kondisi telah berkembang menjadi lebih berat.

Karena itu, pemeriksaan gigi tidak semestinya hanya dilakukan ketika seseorang mengalami keluhan.

Pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari upaya pencegahan dan deteksi dini.

Perubahan cara pandang tersebut penting diterapkan sejak anak-anak. Orang tua memiliki peran dalam membentuk kebiasaan anak untuk menjaga kebersihan gigi, mengendalikan konsumsi makanan dan minuman manis, serta melakukan pemeriksaan gigi secara berkala.

Kesehatan Mulut Menjadi Perhatian di Tingkat Global

Perhatian terhadap kesehatan gigi dan mulut juga semakin diperkuat pada tingkat global.

Pada Oktober 2026, WHO melaporkan adanya inisiatif “100-Day Sprint” yang melibatkan 20 negara dan wilayah di kawasan Asia untuk memperkuat layanan kesehatan mulut. Inisiatif tersebut bertujuan mendorong integrasi layanan kesehatan mulut ke dalam pelayanan kesehatan esensial dan cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC).

Upaya tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mulut merupakan bagian penting dalam pembangunan sistem kesehatan.

WHO juga menekankan pentingnya memperkuat pelayanan kesehatan mulut pada tingkat pelayanan kesehatan primer serta meningkatkan upaya promotif dan preventif. Sebagian besar penyakit mulut dapat dicegah melalui penerapan perilaku hidup sehat dan akses terhadap pelayanan kesehatan yang tepat.

Konteks tersebut sejalan dengan pentingnya penguatan upaya promotif dan preventif di Indonesia melalui berbagai program kesehatan masyarakat, termasuk Cek Kesehatan Gratis.

Langkah Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut

Menjaga kesehatan gigi dan mulut dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Menyikat gigi secara teratur

Menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride merupakan salah satu langkah penting untuk membantu mencegah karies. Waktu yang dianjurkan adalah setelah sarapan dan sebelum tidur.

Penggunaan pasta gigi berfluoride dengan konsentrasi yang sesuai merupakan bagian penting dalam pencegahan karies.

2. Membatasi konsumsi gula

Masyarakat perlu membatasi konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula bebas, termasuk minuman manis, makanan ringan, permen, dan produk pangan dengan tambahan gula.

Selain jumlah gula, frekuensi konsumsi juga perlu diperhatikan. Paparan gula yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko terjadinya karies.

3. Melakukan pemeriksaan gigi secara berkala

Pemeriksaan gigi sebaiknya tidak menunggu munculnya rasa sakit. Pemeriksaan berkala membantu mendeteksi gangguan lebih awal dan memungkinkan penanganan dilakukan sesuai kondisi.

4. Membiasakan anak menjaga kesehatan gigi sejak dini

Pembentukan kebiasaan sehat perlu dimulai sejak anak-anak. Orang tua dapat memberikan contoh melalui kebiasaan menyikat gigi bersama, memilih makanan yang lebih sehat, serta memastikan anak memperoleh pemeriksaan gigi secara berkala.

5. Segera mencari pelayanan kesehatan apabila terdapat keluhan

Nyeri gigi, gusi bengkak, gusi mudah berdarah, gigi berlubang, gigi patah, atau keluhan lain pada rongga mulut sebaiknya tidak diabaikan.

Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.

Membangun Kesadaran bahwa Pencegahan Lebih Baik daripada Menunggu Sakit

Temuan CKG Anak Sekolah tahun 2026 memberikan pesan penting bahwa masalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi tantangan yang perlu mendapatkan perhatian.

Tingginya proporsi karies pada anak menunjukkan bahwa upaya pencegahan perlu dilakukan secara konsisten, tidak hanya oleh fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga oleh keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Kesehatan gigi dan mulut tidak dapat dibangun melalui satu kali pemeriksaan atau satu kali perubahan kebiasaan. Diperlukan perilaku yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Menyikat gigi secara teratur, membatasi konsumsi gula, menjaga pola makan, melakukan pemeriksaan secara berkala, dan segera mendapatkan pelayanan kesehatan apabila terdapat keluhan merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat jangka panjang.

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kualitas kesehatan seseorang. Tidak adanya rasa sakit tidak selalu menunjukkan bahwa kondisi gigi dan mulut dalam keadaan sehat. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengubah pola pikir dari menunggu sakit sebelum mendapatkan pelayanan menjadi melakukan pencegahan dan pemeriksaan sejak dini.

Hasil CKG Anak Sekolah tahun 2026 menjadi pengingat bahwa masih terdapat tantangan dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut, khususnya pada anak-anak. Kondisi tersebut perlu direspons melalui peningkatan pengetahuan, pembentukan perilaku hidup sehat, pemeriksaan secara berkala, serta pemanfaatan pelayanan kesehatan secara tepat.

Kementerian Kesehatan mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh. Pencegahan yang dilakukan sejak dini merupakan investasi kesehatan untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Mari mulai dari kebiasaan sederhana, karena kesehatan yang baik dibangun melalui kepedulian dan tindakan yang dilakukan secara konsisten.[Ririn]

SAPALOKA